Jasmerah Kalah oleh Rayap Mengingat bukan soal niat. Mengingat soal infrastruktur.

Pada 17 Agustus 1966, Bung Karno membawakan pidato kemerdekaan terakhirnya. Judulnya panjang, tetapi pesannya dipadatkan menjadi satu kata yang umurnya jauh lebih panjang daripada kekuasaannya: Jasmerah — jangan sekali-kali melupakan sejarah. (Jasmerah adalah akronim dari “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, seruan Bung Karno dalam pidato 17 Agustus 1966 — yang kemudian menjadi slogan yang diulang-ulang dari dinding kelas hingga lapangan upacara.)

Lebih dari setengah abad kemudian, kalimat itu menempel di prasasti dan monumen, di spanduk, di mulut para pembina upacara. Namun ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: kalau semua orang sudah disuruh mengingat, kenapa sejarah tetap saja bocor?

Di Dieng, kita menyebut candi-candi dengan nama tokoh wayang: Bima, Arjuna, Srikandi. Itu bukan nama aslinya. Nama aslinya hilang; yang kita pakai sekarang adalah label yang ditempelkan belakangan, oleh orang-orang yang juga menerka — berabad-abad setelah batu-batu itu pertama kali ditegakkan, ketika catatan yang mungkin menyimpan nama sejatinya sudah lama lenyap. Batu tetap berdiri. Tapi kartu tanda pengenal batu itu hilang.

Naskah lontar — media tempat leluhur kita menitipkan cerita — adalah kertas organik. Di iklim tropis, ia dimakan rayap, berjamur, rapuh. Satu banjir yang ceroboh bisa mengakhiri sebuah teks yang disalin berabad-abad.

Trowulan menuturkan kisah serupa. Ibu kota Majapahit itu dibangun banyak-banyak dari bata merah — material yang lebih mudah menyerah pada hujan dan akar ketimbang batu. Hari ini, sebagian besar bagiannya terkubur di bawah permukiman dan sawah; kita masih menebak-nebak tata letak lengkap sebuah ibu kota yang pernah menguasai separuh nusantara. Kerajaannya besar. Jejak fisiknya, ternyata, rapuh.

Dan ini bukan cuma cerita Indonesia. Tahun 1258, ketika pasukan Mongol masuk ke Baghdad, Bait al-Hikmah — perpustakaan terbesar zamannya — ikut lenyap; riwayat menyebut Sungai Tigris menghitam oleh tinta buku-buku yang tenggelam. Alexandria hilang lebih dulu, bersama gulungan-gulungannya.

Pola dari semua cerita ini sama: sejarah jarang hilang karena orang berhenti mengingat. Ia hilang karena tempat titipannya gagal. Batu tertimbun. Lontar lapuk. Perpustakaan terbakar. Server mati. Medianya berganti-ganti, tetapi mode gagalnya sama: memori disimpan di satu tempat, dalam satu bentuk yang rapuh.

Di sini saya kira kita perlu membaca ulang Jasmerah. Perintah Bung Karno terdengar seperti teguran moral — seolah lupa adalah dosa karena lalai. Padahal sebagian besar kelupaan kita bukan kelalaian. Ia adalah kegagalan infrastruktur.

Tidak ada orang yang berniat melupakan nama asli candi di Dieng. Hanya saja nama itu ditulis di media yang tidak bertahan. Tidak ada yang ingin naskah lontar menghilang. Hanya saja tropis lebih kejam kepada kertas daripada yang kita kira.

Maka tugas modern dari Jasmerah bukan berteriak “ingat!” lebih keras. Tugasnya adalah menjawab pertanyaan teknis yang tidak sempat Bung Karno ajukan: di mana kita menyimpan, supaya tidak hilang?

Jawaban dari dunia kearsipan sebenarnya tua dan sederhana: jangan titipkan di satu tempat. Di kalangan arsiparis ada pepatah — lots of copies keep stuff safe. Banyak salinan menjaga keberadaan.

Leluhur kita melakukannya secara intuitif. Naskah disalin dari generasi ke generasi. Cerita dituturkan dari mulut ke mulut. Bangunan didirikan kembali setelah runtuh. Redundansi bukan pemborosan; ia strategi bertahan hidup.

Prinsip yang sama kini bisa dijalankan dengan alat yang lebih tahan. Sebuah narasi dapat disalin ke banyak tempat sekaligus — terukir di bahan yang tahan cuaca, tercetak di benda yang ikut bepergian bersama pemiliknya, tersimpan di jaringan yang tidak bergantung pada satu gedung atau satu server mana pun. Ketika satu media mati, media lain masih berbicara.

Bung Karno memberi perintah. Sisanya — bagaimana, di mana, dan dengan biaya apa kita mengingat — adalah pekerjaan rumah kita.

Karena sejarah tidak hilang saat kita lupa. Sejarah hilang saat kita menitipkannya di satu tempat.

Dan bila kelak seseorang — cucu kita, atau orang asing yang penasaran — berdiri di depan batu di Dieng lalu dapat membaca namanya yang sejati, semoga itu terjadi bukan karena keajaiban. Melainkan karena dulu ada yang repot-repot menyalin, menyebarkan, dan menyimpannya di banyak tempat.


Catatan ini bagian dari seri pemikiran Epigrap tentang memori dan peradaban — karena merawat sejarah adalah pekerjaan infrastruktur, bukan sekadar niat baik.

Siap mengabadikan sejarah?

Jadikan monumen fisik Anda sebagai portal digital interaktif tanpa batas bersama Epigrap.

Jelajahi Portal